ANGEL
“Tunggu!”
Beberapa kepala menoleh padanya. Koridor
kampus itu memang sedang ramai.
Seseorang yang di maksudkan itu membalikkan
badannya.
“Hm?”
“Err... boleh aku meminjam pulpenmu?”
Katanya tergagap.
Oh. Way to go, Albert. Itu sangat konyol, kan? Apa tidak ada pertanyaan yang lebih pantas uh? Shit.
Wajahnya mulai memerah malu.
Oh. Way to go, Albert. Itu sangat konyol, kan? Apa tidak ada pertanyaan yang lebih pantas uh? Shit.
Wajahnya mulai memerah malu.
Menaikkan alisnya heran. “Um... aku
sedang tidak membawa alat tulis bersamaku. Sorry.” Gadis itu tersenyum maaf
padanya.
“Oh! I’ts okay. Thanks yah.” Dia
terdengar terlalu bersemangat. Gadis itu kemudian permisi untuk meninggalkan
tempat itu. Pria muda itu mendesah dalam hati dan membenarkan kacamatanya. Mungkin belum saatnya aku dapat berkenalan
dengannya. Tuhan tolong aku please. Let me get to know her. Dia memejamkan
matanya. Tidak sadar telah meneteskan air matanya.
Sahabatnya menghampiri dia dengan
perlahan, berniat untuk memberi dia kejutan. “HAY!”
Albert tersentak. “Y-yah!” Dia melompat
ke belakang sedikit.
Melihat kejailannya berhasil, sahabatnya
itu tidak bisa menahan tawanya.
Dia cemberut. “Lu gila atau emang lagi
kurang kerjaan sih, Don?”
“Just
have fun. Sorry.” Sahabatnya berkata setelah dengan puas menertawakan
ekspresi konyol kagetnya Albert. Masih memegang perutnya, menahan tawa.
Albert tidak mengatakan apapun lagi, dia
menjulurkan lidahnya dan berlari meninggalkan teman jailnya itu sambil menyeka
air matanya. Untung saja sahabatnya itu tidak menyadari mata basahnya ini
karena sibuk menertawakannya.
...
“Angel, tadi itu siapa?”
Dia mengangkat bahunya. “Cowok aneh yang
di koridor itu kan? Gue gak tau.”
“Huh? Tadi bukannya lu ngobrol yah sama
dia?”
“Enggak kok. Dia mau minjem pulpen?
Konyol bukan?”
Mereka semua tertawa mendengar itu.
“Dia niat banget mau minjem pulpen sama
lu. Apa semiskin itu dia?”
Dia mengangkat lagi bahunya.
“Sepertinya.” Dia menyeringai.
Suara tawa mulai gaduh lagi diruangan
itu, murid populer memang senang sekali mengejek kutu buku. Dia kemudian entah
kenapa merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya. Senyumnya hilang. Dia
memegang dadanya. Tapi dia menghiraukan perasaan itu, menoleh ke arah jendela
tepat di samping tempat duduknya itu. Melihat ke bawah sehingga dia dapat
melihat lapangan basket yang luas. Dia melihat ada seorang pria yang duduk di bangku
yang berada di pinggir lapangan itu. Sosok itu sangat tidak asing. Pria itu
mendongakkan kepalanya ke atas. Mata mereka bertemu.
Dia membeku.
Pria itu sangat good looking, matanya tersenyum padanya. Hatinya terasa sangat
dingin melihat itu. Sosok pria itu sangat familiar tapi dia tidak dapat
mengingat dimana dia pernah bertemu. Dia yakin jika pria itu bukanlah mahasiswa
disini.
Bayangannya terhenti ketika merasakan tepukan dibahunya. Dia mengedipkan mata dan membalikkan badannya.
“Apa sih?”
“Udah mau ada dosen tau. Lu dari tadi
liat ke jendela terus. Emang ada apa sih?” Temannya bertanya.
“Gak ada,”
“Pasti ada apa-apa deh, kalau enggak
ada. Muka lu gak mungkin kaya gitu?”
“Emang kenapa sama muka gue?”
“Kaya orang bego.”
Angel hanya mengangkat bahunya ketika
mendengar itu. dia menjulurkan lidahnya. Lalu dengan cepat menolehkan kepala ke
arah luar jendela kembali. Masih penasaran dengan sosok yang tidak sengaja dia
lihat itu. Dia mendesah frustasi ketika melihat lapangan yang sunyi, tampak
tidak ada siapapun disana. Rasa penasaran dan bingung mulai berkecamuk. Apa tadi gue halusinasi yah? Tapi itu kaya
nyata banget. Anehnya kenapa pria itu seperti mengeluarkan cahaya? Setelah
beberapa detik, dia akhirnya menoleh ke papan tulis dan ternyata disana sudah
ada seorang dosen yang terlihat sedang sibuk menulis absen. Angel pun membuka
bukunya, bersiap menghadapi sang dosen killer.
...
Dia meminum kopinya sangat perlahan.
“Don, lu tau gak mahasiswi angkatan kita di jurusan managemen bisnis yang
namanya Angel?”
“Tau lah. Kenapa emang?” Doni menaikkan
alisnya.
Albert menggelengkan kepala. “Enggak
apa-apa sih. Nanya aja.” Dia kemudian mencoba tersenyum.
“Gadis populer dari keluarga konglomerat
dan playgirl. Hapus harapan lu itu, Bert.”
Albert tidak berkata apa-apa. Dia masih
meminum kopinya, mencoba untuk membenamkan wajahnya di gelas itu. penekanan kata playgirl pada konotasi nada bicara Doni semakin membuat hatinya semakin gusar dari sebelumnya.
“Gue tau apa yang sedang lu pikir dan
rasain. Gue punya firasat buruk soal yang satu ini. Mundur sebelum terluka.”
Albert mengejek. “Doni, gue tau lu care
sama gue tapi buat yang satu ini gue mohon lu jangan ikut campur. Gue tau apa
yang gue lakuin dan konsekuensinya juga. Jadi please, stay away.” Debat Albert.
Dino mendesah. Dia tahu tidak akan ada
yang bisa menghalangi temannya ini jika dia sudah mempunyai ambisi seperti ini.
Dia meminum kopinya untuk membuat suasana sedikit lebih nyaman.
Sejenak suasana mulai hening. Mereka berdua
sepertinya tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini.
Albert menaruh gelas kopinya di meja.
Menatap nanar ke arah sahabatnya itu yang sekarang tepat duduk di depannya. Dia
memberanikan diri untuk berbicara karena sepertinya Doni sudah kehilangan
keberaniannya. “Maaf, Don. Bukannya gue bermaksud kasar tapi-...”
“Gue tau. Lu tau dimana nyari gue kalo
lu butuh bantuan.” Doni menaruh gelasnya juga sebelum memotong perkataan Albert
tadi. Dia tersenyum dan berdiri dari kursi lalu berjalan pelan keluar dari coffe
shop itu dengan perasaan kecewa dan sedikit khawatir.
Albert melihat Doni keluar pintu exit
dan menghilang. Dia menghembuskan nafasnya. Tanpa sadar sudah beberapa menit
dia memandang sedih pintu exit itu. dia memang bukan orang yang dengan mudah
bersikap kasar seperti tadi tapi entah hanya karena seorang gadis dia bisa
seperti itu. maafin gue, Don. Tapi gue
harus bener-bener kenal sama cewek bernama Angel itu. ini demi hidupnya. Dammit
why it’s become so complicated. Dia menggelengkan kepala.
“Err... permisi.”
Dia mendongakkan kepala seketika
mendengar ada suara serak berbicara padanya. Matanya membesar terkejut. Dia
membeku ditempat. Dia tidak dapat mengeluarkan kata apapun. Do’anya terkabul.
Sesaat mereka hanya bertatapan. Gadis
itu berdiri dengan canggung sebelum bertanya padanya. “Boleh aku duduk disini?
Maksudku, semua meja sudah penuh dan aku gak dapet tempat kosong.” Dia
tersenyum.
“Tentu!” Jawabannya itu terlalu keluar
dengan bersemangat. Wajahnya memerah malu. Dia mencoba tetap tersenyum sambil
menggaruk kepala.
Gadis itu membalas senyumannya.
“Thanks.” Dia kemudian duduk di sebrangnya.
Albert hanya mengangguk. Oh holy shit. God. Apa yang harus aku
lakukan sekarang!
Suasana hening. Tidak satupun dari
mereka berbicara. Gadis itu memperhatikan tingkah antik Albert. Dia mulai
merasa canggung lalu mengeluarkan handphonenya. Bukannya ini bocah cupu yang suka ngebuntutin gue yah? Kalo gue deketin
dia mungkin akan menyenangkan huh? Dia tersenyum dalam hati. Bangga akan
rencananya sendiri. Melihat pria di depannya hanya mematung terus, dia
memutuskan untuk memulai aksinya saja sekarang.
“Hm... Aku Angel anyway.”
Albert mengangkat kepalanya, bingung.
Dia mengedipkan matanya beberapa kali.
Melihat tidak ada respon. Angel bertanya
lagi sebelum mengibaskan rambutnya sengaja. “Dan siapa namamu?”
“A-aku... Albert.” Dengan tergagap dia kemudian
menyeringai.
“Oh. Senang berkenalan denganmu.”
Dia mengangguk.
“Kamu kuliah dimana?” Tanyanya lagi.
Albert menelan ludahnya, membenarkan
kacamatanya. “Di universitas yang sama denganmu.”
“Oh? Tapi aku gak pernah liat kamu yah.
Kamu jurusan apa emang?”
“Akuntansi.”
“Ah. pantesan.” Dia tersenyum sangat
cantik. Albert hanya bisa menelan ludahnya.
Mereka berdua mengobrol sangat akrab
satu sama lain, membahas semua topik. Tanpa sadar kalau Angel mulai nyaman
dengan kehadiran Albert. Obrolan mereka berlanjut sampai closing up shop itu. karyawan shop mengatakan jika mereka bisa
datang lain kali karena memang hari sudah larut. Keduanya kemudian keluar dari
shop dan saling berpamitan.
...
“Eh, kemaren ada yang liat lu di shop
sama si cupu itu. bener emang?”
“Yup.”
“Hah. Lu udah gak waras yah?!”
“Lu tuh yang gak waras. Teriak dikantin
yang lagi rame gini.”
Semua mata mulai melihat kearah mereka.
Temannya tersipu. Membungkuk maaf pada orang-orang disana.
“Gue gak nyangka banget lu bisa ngobrol
akrab gitu sama dia. Sadar gak sih lu?” Kali ini temannya sedikit menurunkan
suaranya, mendesis.
Dia mengangkat bahunya dan menarik napas.
“Jangan pernah melihat buku dari penampilan luarnya aja dong, Nin.” Dia
mendelek tak percaya.
Temannya hanya bisa menggelengkan
kepala. “Lu sendiri yang bilang dulu. Gue gak kenal siapa lu sekarang. Lu
berubah banget sih.”
“Semua orang berubah.” Dia tersenyum.
“Devil ke Angel? Mustahil.” Terkekeh.
“Gue emang Angel!” Angel mendesis pelan.
“Nama lu emang itu tapi kan kelakuan lu
selama ini udah kaya devil aja.” Jawab temannya tenang. “Tapi kayanya pangeran
kutu buku lu itu udah ngubah lu jadi bijak gini, salut deh.” Jelas Nina lagi.
“Whatever.”
Dia memalingkan wajahnya, mulai sangat malas membahas soal ini. Tiba-tiba saja
matanya menangkap sosok pria tampan itu lagi di ujung pintu kantin. Matanya
membesar. Pria itu selalu memakai pakaian serba hitam. Pria itu mendongakkan
kepalanya dan tersenyum ke arahnya. Dia membeku.
“Angel...”
Dia membalikkan badannya, merasa
tersentak.
“Gue udah manggil lu 3 kali ih.” Nina
berkata dengan iritasi. “Tuh kan, udah berapa kali sih lu ngelamun kaya gitu
terus, jadi aneh lu lama-lama. Jangan deketin lagi si cupu ah, sekarang kan lu udah
mulai ketularan.”
Angel menghiraukan semua ceramahan Nina
itu. Dia menoleh ke arah pintu kantin lagi. Tapi disana tidak ada siapapun. Dia
mencari di sekeliling kantin, memutar kanan kiri kepalanya. Ini sangat aneh
pikirnya, pria itu selalu datang tiba-tiba dan pergi sedetik kemudian dengan
sangat cepat. Tanpa sadar dia mendesah. Menutup matanya dan kembali makan.
...
Suara desingan keras dari luar jendela
kamarnya membuatnya terperanjat dari tempat tidurnya, membalikkan badannya dan
menutup laptopnya. Berjalan ke jendela dengan perlahan. Dia menarik napas
dalam. Kemudian saat tangannya sedang berada di ujung jendela untuk menutupnya.
“Hi.”
Dia terkejut dan membalikkan bandannya
cepat. “Oh. Hi juga. Aku pikir kamu itu maling.” Dia menghembuskan napas lega
lalu berjalan kembali ke kasur. Duduk disana dengan tenang dan melihat ke arah pria
yang ada di ruangan itu juga. Walaupun dia mencoba bersikap tenang akan
kedatangan tiba-tiba orang itu tapi dia tidak bisa menyangkal rasa gugupnya.
Tangannya basah. Dia mengelap kedua tangannya di celana pendek birunya.
Menundukan kepala.
“Sudah lama kita kenal tapi tetap saja
kau takut padaku.” Pria itu tertawa sinis.
Mendengar kata itu dengan cepat dia
mendongak dan menyeringai. “Bagaimana aku bisa tidak takut padamu? Walaupun
udah lama kenal. Aku gak bisa menutup fakta kalau kamu itu adalah seoarang
malaikat maut. Huh?” Dia menelan ludahnya keras.
Pria itu tertawa lagi. “Bener sih. Tapi
kan aku adalah malaikat maut yang bertoleran. Buktinya aku menugaskanmu untuk
menolong gadis yang dalam waktu 6 bulan lagi akan kehilangan nyawanya
ditanganku.”
Dia mengernyit. Fakta memang terlalu
kejam baginya.
Pria itu meneruskan lagi. “Ingat,
Albert. Waktu semakin sempit. Buatlah dia bahagia dan berubah dalam sisa
waktunya.” Pria itu mengangkat telunjuknya dan menunjuk ke arah Albert sebelum
duduk di atas meja belajarnya. “Kamu udah menyia-nyiakan waktu selama 6 bulan.
Sekarang sisa waktumu 6 bulan lagi. Go get her! Atau dia akan mati sia-sia. Dia
bukan gadis jahat. Dia hanya gadis manja yang tidak pernah mengenal kasih
sayang sepenuhnya.” Suara pria itu sedikit naik. Membuat Albert gemetar ketakutan.
Keberadaan pria ini saja sudah membuatnya takut setengah mati, apalagi di tambah
dengan ancaman seperti ini. “Atau tidak kamu akan hidup dalam penyesalan seumur
hidupmu. Bye. Good luck.” Tanpa menunggu respon dari Albert, pria itu berlari
kilat menghilang lewat jendela kamarnya.
Albert melihat itu dengan mulut terbuka.
Selalu saja seperti ini. Dia menutup mata dan mulutnya. Melemparkan tubuhnya ke
kasur dengan cukup keras. Mengerang frustasi. Menutupi seluruh wajahnya dengan
kedua tangannya. Gue gak mungkin
tiba-tiba bilang sama dia kalo dia enam bulan lagi akan mati, kan? Mungkin dia
bakal anggap gue sinting. Baru aja gue deket sama dia. Kenapa sih dari sejuta
orang di Indonesia harus dia sih yang di cabut nyawanya? Gak adil! Tapi gue
bakal laksanain tugas kamu, Malaikat maut.
Sudah dari enam bulan yang lalu tugas
ini diberikan tapi Albert tidak punya hati untuk berkenalan dan melaksanakan
tugas berat ini. Dia hanya dapat merenung dan memikirkannya sendiri, merasa
depresi. Yang paling dia takutkan adalah jatuh cinta pada gadis yang
jelas-jelas adalah gebetannya itu. Tapi gadis itu akan meninggalkannya beberapa
bulan lagi.
Kenapa
harus gue sih?
Beberapa menit kemudian dia tertidur
dalam sejuta pikiran di otaknya
...
“Hello? Angel.”
“Hey, Albert. Kenapa?”
“Kita jalan yuk? Ada yang mau gue
ceritain.”
“Oh?” Gadis itu merasa heran.
“Maksudnya... Gak apa-apa sih kalo kamu
gak mau.”
Terdiam.
“Angel?”
“Okay. Kemana?” Angel bertanya.
Dia menarik napasnya. “Err... Taman? Aku
jemput yah?”
“Okay. Bye then.”
“Bye. See you.”
“See you.” Dia menghembuskan napasnya
kemudian melemparkan handphone-nya ke
kasur. “Argh!”
...
Mereka berjalan berdampingan. Satu sama
lain terenyuh dengan pikirannya. Terkadang tangan mereka akan bersentuhan dan
mereka akan tersipu setelahnya.
Setelah mereka sampai di taman dan duduk
di ayunan yang ada disana, mereka masih saja terdiam karena entah kenapa
suasana seperti ini sangat terasa nyaman bagi mereka berdua.
“Angel...” Akhirnya Albert memecahkan
keheningan yang sejak tadi berkutat diantara mereka itu.
Angel menoleh ke sebelahnya menatapnya
dengan tatapan sangat kagum. “Hm?”
“Err... Apa yang membuatmu mau berteman
denganku?”
Angel tidak pernah mengira kalau
pertanyaan seperti itu akan keluar dari mulut Albert karena jujur saja selama
dua bulan dia berteman dan dekat dengannya, dia merasa sangat senang dan
bahagia. Angel tidak pernah merasakan ketulusan sejak lama seperti yang di berikan
Albert padanya. Memang awalnya dia hanya ingin bermain dengan pria ini tapi
pikiran itu terpatahkan setelah dia mengenalnya lebih jauh. Dia sangat
bersyukur dapat mengenal Albert. Sekarang bahkan dia sudah mulai merubah
sifat-sifat buruknya. Dia tidak pernah lagi memainkan hati orang, dia bukan
seorang bully lagi dan dia selalu berbuat baik pada siapapun. Semua itu berkat
Albert. Kayanya aku udah mulai sayang
kamu, Al.
Angel mendesah. “Kenapa pertanyaanmu
seperti itu?”
Albert menatapnya dengan heran. “Uhm.
Kenapa Angel balik nanya?” Dia tersenyum gugup.
Dia mengangkat bahunya. “Kamu tahu kan
alesannya apa. Aku gak mau jawab pertanyaan itu ah.” Ekspresinya mulai
menghitam.
Albert menyadari ekspresi yang berubah
dari Angel. Dia kemudian memutuskan untuk mengganti topiknya. “Andaikan jika
sang malaikat maut akan mencabut nyawamu, aku bahkan akan menggantinya
denganku. Aku sayang Angel” Tiba-tiba saja mulutnya berkata itu. Dia terheran
dengan perkataannya sendiri lalu dengan cepat menutup mulutnya dengan
tangannya.
Angel terkekeh. “Aku terharu.” Dia
menyondongkan badannya ke arah Albert dan mencium pipinya. “Thanks. Itu sangat
berarti.”
Albert membeku.
Angel tersenyum dan meraih satu tangan
Albert lalu menggenggamnya. Albert merasakan sentuhan hangat darinya dan dengan
cepat melihat pada tangannya dan pada Angel yang sedang tersenyum padanya. “Aku
sayang kamu juga.” Angel berkata.
Mereka berdua lalu tersenyum tulus satu
sama lain, berpegangan erat. Angel mengayun-ayunkan tangan mereka.
Albert mendesah. Aku mau hidup seperti ini selamanya. Dia menutup matanya. I love you, Angel.
...
“Angel, lu di cari pangeran lu tuh.”
Temannya berkata.
“Huh? Oh. Dimana dia, Re?”
Rere menunjuk pada pintu ruang musik
itu. Angel mengikuti arahan Rere dan seketika langsung tersenyum pada pria yang
sedang berdiri disana. Pria itu membalas senyumannya lagi.
“Serius yah lu sekarang pacaran sama
cupu?” Pertanyaan dari Rere membuatnya cemberut dan menoleh padanya lagi.
“Rere, udah seribu kali kan gue bilang
sama lu. Gak ada kasta di dunia ini, so stop diskrimanasi itu. Gue suka dia
kok. So what?” Dia menjawab itu
dengan sangat tenang.
“Terserah lah. Elu udah mulai gak asik
dan aneh.”
“Whatever. Bye.” Angel mengakhiri
percakapan itu lalu mengambil tas-nya dan berjalan menghampiri pria yang sejak
tadi dengan setia menunggunya di luar.
Dia tersenyum. “Udah beres latihannya?”
Angel membalas senyuman itu dan mengangguk.
“Kita ke toko ice cream yuk?”
“Boleh!” Dia tersenyum dan sedikit
melompat.
Albert tertawa melihat tingkah childish dari Angel itu dan memegang
tangannya kemudian menariknya ke luar untuk pergi ke toko itu.
Mereka berjalan cukup palan. Satu sama
lain menikmati kehadirannya dan merasakan nyaman. Beberapa menit setelah
berjalan tanpa satu kata pun dan hanya saling bergandengan, terdengar suara
krek dari atas sebuah toko usang. Albert berhenti dan melihat ke atas. Dia
melotot ketika menyadari apa yang terjadi dan langsung memeluk tubuh Angel
kemudian menutup matanya dan membantingkan tubuh mereka ke samping, jauh dari
tempat itu. Tidak lama setelah itu terdengar suara debugan yang sangat keras
seperti suara papan nama terjatuh ke tanah.
Detak jantungnya berdebar sangat cepat.
Dia mendekap Angel dengan sangat erat, melindunginya dengan kedua tangannya.
Dia meringis saat merasakan darah di tangannya yang sesaat tadi menahan tubuh
mereka ketika terbanting. Dia merasakan tubuh Angel yang gemetar. Kejadian itu
sangat cepat bahkan dia tidak sempat memprosesnya dengan baik.
Dia menoleh ke sampingnya dan menelan
ludahnya saat melihat papan nama raksasa yang tergeletak di tanah. Matanya
membesar ketika dia menyadari jika dia tidak bergerak cepat maka benda itu akan
menghantam mereka. Dia melihat ke bawah dan menyadari jika Angel sedang
menangis. “Hey... sudah, sudah. Tidak apa-apa. Aku disini.” Dia menepuk pelan punggungnya,
berusaha untuk menenangkannya. Dia merasakan jika Angel telah menenggelamkan
kepalanya padanya. Dia terus saja menepuk-nepuk punggungnya. Setelah beberapa
menit di tempat itu banyak sekali orang yang berkerumun tapi sekejap matanya
menangkap sosok yang sudah tidak asing lagi. Dia sedang menyandar di belakang
papan nama raksasa itu dan sedang melihat kearahnya. Dia menelan ludahnya
ketika sosok pria berbaju hitam itu menyeringai sinis padanya kemudian
menaikkan tiga jarinya dan seperti mengisyaratkan ‘tiga bulan tersisa’ Dia
menundukkan kepalanya, takut.
Gimana
ini?No Angel! Dia meneteskan air matanya.
...
“Wow.”
Dia hampir tersedak dari minumnya ketika
mendengar itu dan menoleh pada sumber suara itu sambil mengusap mulutnya.
Dia mendesah. “Apa? Aku kan sudah
melakukan tugasku. Apalagi maumu tuan malaikat maut”
Malaikat maut itu menyeringai. “Sudah
mulai berani, Albert?”
Albert mengangkat bahunya dan berbalik
kembali dan duduk di kasurnya seraya menatap sosok tampan dihadapannya itu.
“Waktu yang tersisa tinggal dua bulan
lagi.”
“Jangan ingatkan aku.” Albert berkata
acuh.
“Kamu boleh meninggalkannya. Kamu
menyelesaikan tugas lebih cepat dari dugaanku.” Sosok tampan itu berkata
sebelum duduk di sampingnya dan menepuk bahunya. “Biarkan aku yang
menyelesaikan tugas akhirnya. Dia sudah berubah menjadi lebih baik dan aku rasa
surga pantas baginya.” Dia berhenti. “Terimakasih.” Dan dia berdiri berniat
untuk meninggalkan tempat itu.
Albert menelan ludahnya. “Tunggu.”
Sosok tampan itu berbalik. “Apa?”
“Apa mungkin jika aku bisa menukar
nyawaku dengannya?”
Sosok tampan itu tertawa. “Jatuh cinta,
Huh?”
“Please?”
“No. Bye.” Dia mengeluarkan sayap dan
melesat ke lar dari jendela.
Albert mendesah keras. Oh tidak! Aku tidak akan membiarkan kau
dengan mudah akan mengambil Angel dariku! Fyl!
...
Hari ini sangat panas sehingga Angel
memaksa Albert untuk berenang dengannya. Dia sedang memperhatikan Angel yang
sedang tertawa dengan riang dan menciprat-cipratkan air kewajahnya. Dia sama
sekali tidak protes. Tinggal beberapa minggu lagi waktu yang tersisa untuk Angel.
Dia menghembuskan napasnya. Menahan air matanya keluar karena pikiran yang
terselebat itu. Dia berusaha tersenyum paksa kemudian menghampirinya.
“Angel, udah yuk ah. Kita makan ah aku
lapar.” Dia berjalan padanya dan menahan semua cipratan itu. “Angel, stop.”
Angel hanya tertawa, terkadang tawanya
itu membuat Albert semakin merasa sedih dan terpuruk. Albert memeluknya untuk
menghentikan dia dari serangan air itu dan menariknya keluar dari kolam. Angel
terkekeh sambil meronta-ronta. Akhirnya Albert menurunkanya di tepian kolam.
Dia menatapnya tajam.
“Albert, kenapa akhir-akhir ini kamu
aneh sih?”
“H-huh?”
“Tuh kan.”
“Enggak ah.”
Angel cemberut. “Nyebelin.”
“Ayo.” Dia menghiraukan itu dan memegang
tangan Angel. Dia selalu ekstra ketat untuk melindunginya sejak kejadian papan
nama raksasa itu, tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi. Aku disini, Angel. Kamu pasti akan selamat
“I hate you.” Angel berkata ketus.
Albert menoleh padanya dan tersenyum.
“Aku tau kamu bohong.” Ketika dia berbalik ada sebuah selang besi raksasa yang
akan jatuh menimpa mereka. Matanya melotot dan dengan segera dia menarik tangan
Angel dan melompat keras ke arah kolam renang lagi. Dia memeluk tubuh Angel dan
menyelam di bawah dengan matanya yang tertutup. Setelah beberapa detik berlalu
dia kemudian melihat ke atas dan melihat selang itu sudah mengambang diatasnya.
Dia dengan cepat berenang ke atas sambil menarik Angel bersamanya. Mengangkat
tubuh Angel yang sedang terengah-engah. Akhirnya sampai di darat dan di sebelah
tepian kolam lagi.
“Kamu gak apa-apa?” Dia bertanya pada
Angel yang sedang panik.
“Apa tadi barusan?”
Dia tidak menjawab dan hanya menunjuk
pada selang besi raksasa yang sedang mengambang di kolam. Angel menelan
ludahnya, terlihat sekali jika dia sangat takut. Dia kemudian maju ke depan dan
mencium keningnya. “It’s okay. Ada aku disini.” Dia memelukanya. Tiba-tiba dia
melihat sosok tampan itu lagi di sebelah tepian ujung kolam di sebrang. Sosok
tampan itu menyeringai sinis padanya seperti biasa. Dia mengangkat jarinya dan
seperti mengisyaratkan ‘tiga minggu’ padanya. Dia hanya menutup matanya.
Berharap akan ada keajaiban. Help us!
...
Mereka sedang berpegangan satu sama
lain. Duduk di atas ayunan dan menikmati desiran angin malam saat itu. Sampai
saat sang wanita muda itu memecahkan keheningan disana. “Albert?”
Dia menoleh. “Hm?”
“Aku ngerasa ada sosok yang selalu
mengikutiku.”
Albert menahan napasnya. “Mungkin kamu
hanya berhalusinasi.”
Angel menggelengkan kepala. “Aku yakin.
Ada pria berbaju hitam yang selalu datang dan pergi di pandanganku.”
Albert tak bergeming.
“Dan aku merasa kematian sedang
mengejarku.” Lanjutnya.
Albert meremas tangan Angel. Matanya
mulai berkaca-kaca, dia menarik napasnya dan kemudian dia tertawa. “Konyol ah.
Terlalu banyak nonton drama nih. Jadi aja lebay!” Dia melepaskan genggamannya
dan berlari mengelilingi ayunan itu.
“Hey! Kamu bilang aku konyol? Kemari
kamu Albert. Biar aku beri kamu pelajaran.” Angel berlari mengejar Albert dan
mereka saling mengejar satu sama lain sambil tertawa menghiasi wajah mereka.
Sejenak Albert melupakan segalanya, dia merasa sangat bahagia.
...
Suara desingan dari luar jendela
terdengar sangat nyaring di telinganya, dia sudah dapat menebak siapa yang akan
muncul setelah itu. Dia berbalik dan melihat sosok tampan itu sedang
menyeringai padanya.
Dia mendesah. “Apalagi?”
“Wow. Sopan sekali.” Dia menghampirinya
dan duduk di meja belajarnya. Menumpangkan satu kakinya. “Apa kabar?”
“Enggak baik.”
Sosok tampan itu tertawa renyah lagi.
“Albert yang dulu kemana nih?”
“Mati.”
Sosok tampan itu menyeringai. “Berbicara
soal mati... hari ini gadis idaman kamu akan mengalaminya.” Dia menepuk
tangannya. “So?”
Albert melotot sangat terkejut dengan
berita yang baru dia dengar itu. “APA?!”
Sosok tampan itu mengangguk.
Albert menghampirinya dan menarik keras
kerah sosok tampan itu. “KENAPA KAU TIDAK MENGATAKAN DARI AWAL?! DIMANA ANGEL
SEKARANG? FUCK!” Dia berteriak dan menarik lebih keras kerahnya itu.
Mengepalkan tangannya.
Sosok tampan itu hanya menyeringai.
“Pukul aku. Seberapa pun kamu menyiksaku itu semua tidak akan berpengaruh.”
Albert mengerang dan melepaskan sosok
tampan itu ke bawah dengan kasar. Dia terengah-engah. Matanya sangat marah.
Wajahnya merah padam.
RING!!
Suara deringan teleponnya membuatnya
terkaget dan dia berbalik menatapnya. Suara telepon itu berdering lagi lalu dia
dengan cepat mengambilnya dan mengangkatnya.
“H-hello?” Suaranya terengah.
“Bisa bicara dengan Tuan Albert?”
“Y-yah saya sendiri?”
“Maaf, Tuan Albert teman anda yang
bernama Angel sedang berada di ruang ICU. Kondisinya sedang kritis disebabkan
kecelakaan beruntun di jalan tol.”
Teleponnya terjatuh ke bawah lantai. Dia
merasa sangat lemas dan merasa sebagian dari hidupnya terampas. Dia menangis
keras. “No. Angel! Tidak...” Kesedihan menyerbu ke dalam hatinya. Dia berbalik
untuk mendapatkan sosok tampan itu hilang dari pandangannya.
“Jangan!”
Dia berbalik dan meraih teleponnya lagi.
“Hello? Apa nama rumah sakitnya?”
...
Dengan langkah yang gontai dia berjalan
ke ruangan ICU. Dilihatnya sudah ada banyak sekali orang yang ada disana. Dia
menghampiri salah satu orang yang dia kenal. “Rere.”
Wanita muda itu berbalik. “Albert!” Dia
menghampirinya dan memeluknya.
Itu membuat Albert terkejut. Wanita muda
itu kemudian melepaskan pelukannya, albert dapat melihat jika wanita muda itu
sudah menangis berat, wajahnya berantakan. Dia menelan ludahnya. “M-mana?
A-angel?” Dia bertanya dengan tergagap.
Wanita muda itu menunjuk pada ruangan di
belakangnya. Dia menatap pada ruangan itu dan berjalan ke arahnya. Ketika dia
sampai di depan kaca besar transparan itu dia melihat wanita yang dia cintai
sedang terbaring tak berdaya di atas kasur dengan beberapa bantuan alat-alat
medis. Dia menarik napas dalam. Angel,
please. Jangan tinggalin aku.
Matanya tidak bisa menahan air matanya lagi.
Dia membiarkan air mata itu mengalir deras saja dipipinya. Rere menepuk pelan
punggungnya untuk menenangkannya. Dia menoleh padanya. “Re, bisa gak aku masuk
ke dalem?”
Rere mengangguk.
Albert sekarang sudah berada di ruangan
itu. Hanya mereka berdua dan suara detitan mesin medis itu yang terdengar. Dia
melawan rasa ingin berteriaknya. Dia terisak-isak dan memegang tangan Angel.
Dia mendesah. “Angel... A-aku m-mohon
kembalilah... don’t leave me,” Dia
meremas tangannya. Masih dengan isakan itu. “Apa yang harus aku lakukan agar
kamu terbangun, Ngel?”
Dia menutup matanya dan mendengar suara
desingan kemudian dia membuka matanya untuk melihat sosok tampan itu lagi tapi
kali ini dia melihat sosok tampan itu sedang memasang wajah sedih padanya.
“Apa?” Dia bertanya padanya.
“Apa cintamu sangat dalam padanya?”
Itu membuatnya heran tapi dia tetap
menjawabnya. “Tentu saja.”
“Apa kamu rela melakukan apapun untuk
dia?”
Albert mengangguk dengan pasti kali ini
lalu melihat ekspresi wajah sosok tampan itu dengan seketika berubah. Sosok
tampan itu tersenyum.” Bagus. Jika kamu rela menukar nyawamu dengannya maka
buka saja alat pembantu jantung itu dan cium dia. Good luck.” Dengan sekejap
sosok tampan itu menghilang dengan sayapnya.
Dia menarik napasnya dan menatap dalam pada
Angel. Aku rela melakukan apapun untukmu,
Angel.
“I love you...”
Dia lalu dengan perlahan membuka penutup
mulut alat bantu pernapasan itu dan menyondongkan badannya ke depan. Menarik
napasnya ketika dia dapat melihat wajah Angel versi close up-nya kamu sangat
cantik. Dia menempelkan bibirnya di bibir Angel lalu menutup matanya.
Terdengar suara detitan keras dari mesin itu.
TIT TIT TITTTTT...
...
“Aku turut berduka cita yah.”
Dia mengangguk lalu menatap sedih batu
nisan itu.
Orang-orang sudah meninggalkan tempat
itu dan sekarang hanya ada dia dan batu nisan itu. Matanya sudah bengkak karena
terlalu banya menangis, hidungnya juga merah. Terlebih lagi suasana hatinya
sangat kacau.
“A-albert....” Dia menangis lagi dan
memegang batu nisan itu. kenapa bisa
begini?!
Dia memeluk batu nisan itu dan
menciumnya. Beberapa saat kemudian dia dapat merasakan ada sosok tampan yang
menghampirinya. Dia melotot, kaget. Dia menarik napasnya. Pria itu?! kenapa dia bisa disini. Pikirnya.
Pria itu tersenyum padanya. “Hey.”
Angel masih terdiam.
“Albert memang pria yang hebat.” Dia
berhenti dan menatap pada batu nisan itu. “Dia rela menukarkan nyawanya
untukmu. Dia begitu sangat mencintaimu.”
Angel menarik dan menghembuskan
napasnya, dia menangis lagi.
Sosok tampan itu menceritakan pada Angel
semua yang telah terjadi selama ini padanya. Angel mendengarkan semuanya dengan
heran dan sedih. Merasakan perasaan yang sangat mendalam.
Sosok tampan itu berlutut dan memegang
bat nisan Albert. “Jangan sia-siakan hidupmu. Albert telah berjuang untuk itu. Move on.” Setelah berkata itu sosok
tampan itu menghilang dengan sayapnya.
Dia memperhatikannya dengan sedikit
kagum dan takut. Dia menatap kembali batu nisan itu dan menciumnya lagi. “Thank
you. I love you.... so much.” Dia menutup mata dan menangis lagi.
-THE
END-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar