Selasa, 01 Maret 2016

ANGEL



ANGEL
Malaikat maut mengincar pujaan hatimu




“Tunggu!”
Beberapa kepala menoleh padanya. Koridor kampus itu memang sedang ramai.
 Seseorang yang di maksudkan itu membalikkan badannya.
“Hm?”
“Err... boleh aku meminjam pulpenmu?” Katanya tergagap.
 Oh. Way to go, Albert. Itu sangat konyol, kan? Apa tidak ada pertanyaan yang lebih pantas uh? Shit. 
Wajahnya mulai memerah malu.
Menaikkan alisnya heran. “Um... aku sedang tidak membawa alat tulis bersamaku. Sorry.” Gadis itu tersenyum maaf padanya.
“Oh! I’ts okay. Thanks yah.” Dia terdengar terlalu bersemangat. Gadis itu kemudian permisi untuk meninggalkan tempat itu. Pria muda itu mendesah dalam hati dan membenarkan kacamatanya. Mungkin belum saatnya aku dapat berkenalan dengannya. Tuhan tolong aku please. Let me get to know her. Dia memejamkan matanya. Tidak sadar telah meneteskan air matanya.
Sahabatnya menghampiri dia dengan perlahan, berniat untuk memberi dia kejutan. “HAY!”
Albert tersentak. “Y-yah!” Dia melompat ke belakang sedikit.
Melihat kejailannya berhasil, sahabatnya itu tidak bisa menahan tawanya.
Dia cemberut. “Lu gila atau emang lagi kurang kerjaan sih, Don?”
Just have fun. Sorry.” Sahabatnya berkata setelah dengan puas menertawakan ekspresi konyol kagetnya Albert. Masih memegang perutnya, menahan tawa.
Albert tidak mengatakan apapun lagi, dia menjulurkan lidahnya dan berlari meninggalkan teman jailnya itu sambil menyeka air matanya. Untung saja sahabatnya itu tidak menyadari mata basahnya ini karena sibuk menertawakannya.
...

“Angel, tadi itu siapa?”
Dia mengangkat bahunya. “Cowok aneh yang di koridor itu kan? Gue gak tau.”
“Huh? Tadi bukannya lu ngobrol yah sama dia?”
“Enggak kok. Dia mau minjem pulpen? Konyol bukan?”
Mereka semua tertawa mendengar itu.
“Dia niat banget mau minjem pulpen sama lu. Apa semiskin itu dia?”
Dia mengangkat lagi bahunya. “Sepertinya.” Dia menyeringai.
Suara tawa mulai gaduh lagi diruangan itu, murid populer memang senang sekali mengejek kutu buku. Dia kemudian entah kenapa merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya. Senyumnya hilang. Dia memegang dadanya. Tapi dia menghiraukan perasaan itu, menoleh ke arah jendela tepat di samping tempat duduknya itu. Melihat ke bawah sehingga dia dapat melihat lapangan basket yang luas. Dia melihat ada seorang pria yang duduk di bangku yang berada di pinggir lapangan itu. Sosok itu sangat tidak asing. Pria itu mendongakkan kepalanya ke atas. Mata mereka bertemu.
Dia membeku.
Pria itu sangat good looking, matanya tersenyum padanya. Hatinya terasa sangat dingin melihat itu. Sosok pria itu sangat familiar tapi dia tidak dapat mengingat dimana dia pernah bertemu. Dia yakin jika pria itu bukanlah mahasiswa disini.
Bayangannya terhenti ketika merasakan tepukan dibahunya. Dia mengedipkan mata dan membalikkan badannya.
“Apa sih?”
“Udah mau ada dosen tau. Lu dari tadi liat ke jendela terus. Emang ada apa sih?” Temannya bertanya.
“Gak ada,”
“Pasti ada apa-apa deh, kalau enggak ada. Muka lu gak mungkin kaya gitu?”
“Emang kenapa sama muka gue?”
“Kaya orang bego.”
Angel hanya mengangkat bahunya ketika mendengar itu. dia menjulurkan lidahnya. Lalu dengan cepat menolehkan kepala ke arah luar jendela kembali. Masih penasaran dengan sosok yang tidak sengaja dia lihat itu. Dia mendesah frustasi ketika melihat lapangan yang sunyi, tampak tidak ada siapapun disana. Rasa penasaran dan bingung mulai berkecamuk. Apa tadi gue halusinasi yah? Tapi itu kaya nyata banget. Anehnya kenapa pria itu seperti mengeluarkan cahaya? Setelah beberapa detik, dia akhirnya menoleh ke papan tulis dan ternyata disana sudah ada seorang dosen yang terlihat sedang sibuk menulis absen. Angel pun membuka bukunya, bersiap menghadapi sang dosen killer.
...

Dia meminum kopinya sangat perlahan. “Don, lu tau gak mahasiswi angkatan kita di jurusan managemen bisnis yang namanya Angel?”
“Tau lah. Kenapa emang?” Doni menaikkan alisnya.
Albert menggelengkan kepala. “Enggak apa-apa sih. Nanya aja.” Dia kemudian mencoba tersenyum.
“Gadis populer dari keluarga konglomerat dan playgirl. Hapus harapan lu itu, Bert.”
Albert tidak berkata apa-apa. Dia masih meminum kopinya, mencoba untuk membenamkan wajahnya di gelas itu. penekanan kata playgirl pada konotasi nada bicara Doni semakin membuat hatinya semakin gusar dari sebelumnya.
“Gue tau apa yang sedang lu pikir dan rasain. Gue punya firasat buruk soal yang satu ini. Mundur sebelum terluka.”
Albert mengejek. “Doni, gue tau lu care sama gue tapi buat yang satu ini gue mohon lu jangan ikut campur. Gue tau apa yang gue lakuin dan konsekuensinya juga. Jadi please, stay away.” Debat Albert.
Dino mendesah. Dia tahu tidak akan ada yang bisa menghalangi temannya ini jika dia sudah mempunyai ambisi seperti ini. Dia meminum kopinya untuk membuat suasana sedikit lebih nyaman.
Sejenak suasana mulai hening. Mereka berdua sepertinya tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini.
Albert menaruh gelas kopinya di meja. Menatap nanar ke arah sahabatnya itu yang sekarang tepat duduk di depannya. Dia memberanikan diri untuk berbicara karena sepertinya Doni sudah kehilangan keberaniannya. “Maaf, Don. Bukannya gue bermaksud kasar tapi-...”
“Gue tau. Lu tau dimana nyari gue kalo lu butuh bantuan.” Doni menaruh gelasnya juga sebelum memotong perkataan Albert tadi. Dia tersenyum dan berdiri dari kursi lalu berjalan pelan keluar dari coffe shop itu dengan perasaan kecewa dan sedikit khawatir.
Albert melihat Doni keluar pintu exit dan menghilang. Dia menghembuskan nafasnya. Tanpa sadar sudah beberapa menit dia memandang sedih pintu exit itu. dia memang bukan orang yang dengan mudah bersikap kasar seperti tadi tapi entah hanya karena seorang gadis dia bisa seperti itu. maafin gue, Don. Tapi gue harus bener-bener kenal sama cewek bernama Angel itu. ini demi hidupnya. Dammit why it’s become so complicated. Dia menggelengkan kepala.
“Err... permisi.”
Dia mendongakkan kepala seketika mendengar ada suara serak berbicara padanya. Matanya membesar terkejut. Dia membeku ditempat. Dia tidak dapat mengeluarkan kata apapun. Do’anya terkabul.
Sesaat mereka hanya bertatapan. Gadis itu berdiri dengan canggung sebelum bertanya padanya. “Boleh aku duduk disini? Maksudku, semua meja sudah penuh dan aku gak dapet tempat kosong.” Dia tersenyum.
“Tentu!” Jawabannya itu terlalu keluar dengan bersemangat. Wajahnya memerah malu. Dia mencoba tetap tersenyum sambil menggaruk kepala.
Gadis itu membalas senyumannya. “Thanks.” Dia kemudian duduk di sebrangnya.
Albert hanya mengangguk. Oh holy shit. God. Apa yang harus aku lakukan sekarang!
Suasana hening. Tidak satupun dari mereka berbicara. Gadis itu memperhatikan tingkah antik Albert. Dia mulai merasa canggung lalu mengeluarkan handphonenya. Bukannya ini bocah cupu yang suka ngebuntutin gue yah? Kalo gue deketin dia mungkin akan menyenangkan huh? Dia tersenyum dalam hati. Bangga akan rencananya sendiri. Melihat pria di depannya hanya mematung terus, dia memutuskan untuk memulai aksinya saja sekarang.
“Hm... Aku Angel anyway.”
Albert mengangkat kepalanya, bingung. Dia mengedipkan matanya beberapa kali.
Melihat tidak ada respon. Angel bertanya lagi sebelum mengibaskan rambutnya sengaja. “Dan siapa namamu?”
“A-aku... Albert.” Dengan tergagap dia kemudian menyeringai.
“Oh. Senang berkenalan denganmu.”
Dia mengangguk.
“Kamu kuliah dimana?” Tanyanya lagi.
Albert menelan ludahnya, membenarkan kacamatanya. “Di universitas yang sama denganmu.”
“Oh? Tapi aku gak pernah liat kamu yah. Kamu jurusan apa emang?”
“Akuntansi.”
“Ah. pantesan.” Dia tersenyum sangat cantik. Albert hanya bisa menelan ludahnya.
Mereka berdua mengobrol sangat akrab satu sama lain, membahas semua topik. Tanpa sadar kalau Angel mulai nyaman dengan kehadiran Albert. Obrolan mereka berlanjut sampai closing up shop itu. karyawan shop mengatakan jika mereka bisa datang lain kali karena memang hari sudah larut. Keduanya kemudian keluar dari shop dan saling berpamitan.
...

“Eh, kemaren ada yang liat lu di shop sama si cupu itu. bener emang?”
“Yup.”
“Hah. Lu udah gak waras yah?!”
“Lu tuh yang gak waras. Teriak dikantin yang lagi rame gini.”
Semua mata mulai melihat kearah mereka. Temannya tersipu. Membungkuk maaf pada orang-orang disana.
“Gue gak nyangka banget lu bisa ngobrol akrab gitu sama dia. Sadar gak sih lu?” Kali ini temannya sedikit menurunkan suaranya, mendesis.
Dia mengangkat bahunya dan menarik napas. “Jangan pernah melihat buku dari penampilan luarnya aja dong, Nin.” Dia mendelek tak percaya.
Temannya hanya bisa menggelengkan kepala. “Lu sendiri yang bilang dulu. Gue gak kenal siapa lu sekarang. Lu berubah banget sih.”
“Semua orang berubah.” Dia tersenyum.
“Devil ke Angel? Mustahil.” Terkekeh.
“Gue emang Angel!” Angel mendesis pelan.
“Nama lu emang itu tapi kan kelakuan lu selama ini udah kaya devil aja.” Jawab temannya tenang. “Tapi kayanya pangeran kutu buku lu itu udah ngubah lu jadi bijak gini, salut deh.” Jelas Nina lagi.
Whatever.” Dia memalingkan wajahnya, mulai sangat malas membahas soal ini. Tiba-tiba saja matanya menangkap sosok pria tampan itu lagi di ujung pintu kantin. Matanya membesar. Pria itu selalu memakai pakaian serba hitam. Pria itu mendongakkan kepalanya dan tersenyum ke arahnya. Dia membeku.
“Angel...”
Dia membalikkan badannya, merasa tersentak.
“Gue udah manggil lu 3 kali ih.” Nina berkata dengan iritasi. “Tuh kan, udah berapa kali sih lu ngelamun kaya gitu terus, jadi aneh lu lama-lama. Jangan deketin lagi si cupu ah, sekarang kan lu udah mulai ketularan.”
Angel menghiraukan semua ceramahan Nina itu. Dia menoleh ke arah pintu kantin lagi. Tapi disana tidak ada siapapun. Dia mencari di sekeliling kantin, memutar kanan kiri kepalanya. Ini sangat aneh pikirnya, pria itu selalu datang tiba-tiba dan pergi sedetik kemudian dengan sangat cepat. Tanpa sadar dia mendesah. Menutup matanya dan kembali makan.
...
Suara desingan keras dari luar jendela kamarnya membuatnya terperanjat dari tempat tidurnya, membalikkan badannya dan menutup laptopnya. Berjalan ke jendela dengan perlahan. Dia menarik napas dalam. Kemudian saat tangannya sedang berada di ujung jendela untuk menutupnya.
“Hi.”
Dia terkejut dan membalikkan bandannya cepat. “Oh. Hi juga. Aku pikir kamu itu maling.” Dia menghembuskan napas lega lalu berjalan kembali ke kasur. Duduk disana dengan tenang dan melihat ke arah pria yang ada di ruangan itu juga. Walaupun dia mencoba bersikap tenang akan kedatangan tiba-tiba orang itu tapi dia tidak bisa menyangkal rasa gugupnya. Tangannya basah. Dia mengelap kedua tangannya di celana pendek birunya. Menundukan kepala.
“Sudah lama kita kenal tapi tetap saja kau takut padaku.” Pria itu tertawa sinis.
Mendengar kata itu dengan cepat dia mendongak dan menyeringai. “Bagaimana aku bisa tidak takut padamu? Walaupun udah lama kenal. Aku gak bisa menutup fakta kalau kamu itu adalah seoarang malaikat maut. Huh?” Dia menelan ludahnya keras.
Pria itu tertawa lagi. “Bener sih. Tapi kan aku adalah malaikat maut yang bertoleran. Buktinya aku menugaskanmu untuk menolong gadis yang dalam waktu 6 bulan lagi akan kehilangan nyawanya ditanganku.”
Dia mengernyit. Fakta memang terlalu kejam baginya.
Pria itu meneruskan lagi. “Ingat, Albert. Waktu semakin sempit. Buatlah dia bahagia dan berubah dalam sisa waktunya.” Pria itu mengangkat telunjuknya dan menunjuk ke arah Albert sebelum duduk di atas meja belajarnya. “Kamu udah menyia-nyiakan waktu selama 6 bulan. Sekarang sisa waktumu 6 bulan lagi. Go get her! Atau dia akan mati sia-sia. Dia bukan gadis jahat. Dia hanya gadis manja yang tidak pernah mengenal kasih sayang sepenuhnya.” Suara pria itu sedikit naik. Membuat Albert gemetar ketakutan. Keberadaan pria ini saja sudah membuatnya takut setengah mati, apalagi di tambah dengan ancaman seperti ini. “Atau tidak kamu akan hidup dalam penyesalan seumur hidupmu. Bye. Good luck.” Tanpa menunggu respon dari Albert, pria itu berlari kilat menghilang lewat jendela kamarnya.
Albert melihat itu dengan mulut terbuka. Selalu saja seperti ini. Dia menutup mata dan mulutnya. Melemparkan tubuhnya ke kasur dengan cukup keras. Mengerang frustasi. Menutupi seluruh wajahnya dengan kedua tangannya. Gue gak mungkin tiba-tiba bilang sama dia kalo dia enam bulan lagi akan mati, kan? Mungkin dia bakal anggap gue sinting. Baru aja gue deket sama dia. Kenapa sih dari sejuta orang di Indonesia harus dia sih yang di cabut nyawanya? Gak adil! Tapi gue bakal laksanain tugas kamu, Malaikat maut.
Sudah dari enam bulan yang lalu tugas ini diberikan tapi Albert tidak punya hati untuk berkenalan dan melaksanakan tugas berat ini. Dia hanya dapat merenung dan memikirkannya sendiri, merasa depresi. Yang paling dia takutkan adalah jatuh cinta pada gadis yang jelas-jelas adalah gebetannya itu. Tapi gadis itu akan meninggalkannya beberapa bulan lagi.
Kenapa harus gue sih?
Beberapa menit kemudian dia tertidur dalam sejuta pikiran di otaknya
...


“Hello? Angel.”
“Hey, Albert. Kenapa?”
“Kita jalan yuk? Ada yang mau gue ceritain.”
“Oh?” Gadis itu merasa heran.
“Maksudnya... Gak apa-apa sih kalo kamu gak mau.”
Terdiam.
“Angel?”
“Okay. Kemana?” Angel bertanya.
Dia menarik napasnya. “Err... Taman? Aku jemput yah?”
“Okay. Bye then.”
“Bye. See you.”
“See you.” Dia menghembuskan napasnya kemudian melemparkan handphone-nya ke kasur. “Argh!”
...

Mereka berjalan berdampingan. Satu sama lain terenyuh dengan pikirannya. Terkadang tangan mereka akan bersentuhan dan mereka akan tersipu setelahnya.
Setelah mereka sampai di taman dan duduk di ayunan yang ada disana, mereka masih saja terdiam karena entah kenapa suasana seperti ini sangat terasa nyaman bagi mereka berdua.
“Angel...” Akhirnya Albert memecahkan keheningan yang sejak tadi berkutat diantara mereka itu.
Angel menoleh ke sebelahnya menatapnya dengan tatapan sangat kagum. “Hm?”
“Err... Apa yang membuatmu mau berteman denganku?”
Angel tidak pernah mengira kalau pertanyaan seperti itu akan keluar dari mulut Albert karena jujur saja selama dua bulan dia berteman dan dekat dengannya, dia merasa sangat senang dan bahagia. Angel tidak pernah merasakan ketulusan sejak lama seperti yang di berikan Albert padanya. Memang awalnya dia hanya ingin bermain dengan pria ini tapi pikiran itu terpatahkan setelah dia mengenalnya lebih jauh. Dia sangat bersyukur dapat mengenal Albert. Sekarang bahkan dia sudah mulai merubah sifat-sifat buruknya. Dia tidak pernah lagi memainkan hati orang, dia bukan seorang bully lagi dan dia selalu berbuat baik pada siapapun. Semua itu berkat Albert. Kayanya aku udah mulai sayang kamu, Al.
Angel mendesah. “Kenapa pertanyaanmu seperti itu?”
Albert menatapnya dengan heran. “Uhm. Kenapa Angel balik nanya?” Dia tersenyum gugup.
Dia mengangkat bahunya. “Kamu tahu kan alesannya apa. Aku gak mau jawab pertanyaan itu ah.” Ekspresinya mulai menghitam.
Albert menyadari ekspresi yang berubah dari Angel. Dia kemudian memutuskan untuk mengganti topiknya. “Andaikan jika sang malaikat maut akan mencabut nyawamu, aku bahkan akan menggantinya denganku. Aku sayang Angel” Tiba-tiba saja mulutnya berkata itu. Dia terheran dengan perkataannya sendiri lalu dengan cepat menutup mulutnya dengan tangannya.
Angel terkekeh. “Aku terharu.” Dia menyondongkan badannya ke arah Albert dan mencium pipinya. “Thanks. Itu sangat berarti.”
Albert membeku.
Angel tersenyum dan meraih satu tangan Albert lalu menggenggamnya. Albert merasakan sentuhan hangat darinya dan dengan cepat melihat pada tangannya dan pada Angel yang sedang tersenyum padanya. “Aku sayang kamu juga.” Angel berkata.
Mereka berdua lalu tersenyum tulus satu sama lain, berpegangan erat. Angel mengayun-ayunkan tangan mereka.
Albert mendesah. Aku mau hidup seperti ini selamanya. Dia menutup matanya. I love you, Angel.
...

“Angel, lu di cari pangeran lu tuh.” Temannya berkata.
“Huh? Oh. Dimana dia, Re?”
Rere menunjuk pada pintu ruang musik itu. Angel mengikuti arahan Rere dan seketika langsung tersenyum pada pria yang sedang berdiri disana. Pria itu membalas senyumannya lagi.
“Serius yah lu sekarang pacaran sama cupu?” Pertanyaan dari Rere membuatnya cemberut dan menoleh padanya lagi.
“Rere, udah seribu kali kan gue bilang sama lu. Gak ada kasta di dunia ini, so stop diskrimanasi itu. Gue suka dia kok. So what?” Dia menjawab itu dengan sangat tenang.
“Terserah lah. Elu udah mulai gak asik dan aneh.”
“Whatever. Bye.” Angel mengakhiri percakapan itu lalu mengambil tas-nya dan berjalan menghampiri pria yang sejak tadi dengan setia menunggunya di luar.
Dia tersenyum. “Udah beres latihannya?”
Angel membalas senyuman itu dan mengangguk.
“Kita ke toko ice cream yuk?”
“Boleh!” Dia tersenyum dan sedikit melompat.
Albert tertawa melihat tingkah childish dari Angel itu dan memegang tangannya kemudian menariknya ke luar untuk pergi ke toko itu.
Mereka berjalan cukup palan. Satu sama lain menikmati kehadirannya dan merasakan nyaman. Beberapa menit setelah berjalan tanpa satu kata pun dan hanya saling bergandengan, terdengar suara krek dari atas sebuah toko usang. Albert berhenti dan melihat ke atas. Dia melotot ketika menyadari apa yang terjadi dan langsung memeluk tubuh Angel kemudian menutup matanya dan membantingkan tubuh mereka ke samping, jauh dari tempat itu. Tidak lama setelah itu terdengar suara debugan yang sangat keras seperti suara papan nama terjatuh ke tanah.
Detak jantungnya berdebar sangat cepat. Dia mendekap Angel dengan sangat erat, melindunginya dengan kedua tangannya. Dia meringis saat merasakan darah di tangannya yang sesaat tadi menahan tubuh mereka ketika terbanting. Dia merasakan tubuh Angel yang gemetar. Kejadian itu sangat cepat bahkan dia tidak sempat memprosesnya dengan baik.
Dia menoleh ke sampingnya dan menelan ludahnya saat melihat papan nama raksasa yang tergeletak di tanah. Matanya membesar ketika dia menyadari jika dia tidak bergerak cepat maka benda itu akan menghantam mereka. Dia melihat ke bawah dan menyadari jika Angel sedang menangis. “Hey... sudah, sudah. Tidak apa-apa. Aku disini.” Dia menepuk pelan punggungnya, berusaha untuk menenangkannya. Dia merasakan jika Angel telah menenggelamkan kepalanya padanya. Dia terus saja menepuk-nepuk punggungnya. Setelah beberapa menit di tempat itu banyak sekali orang yang berkerumun tapi sekejap matanya menangkap sosok yang sudah tidak asing lagi. Dia sedang menyandar di belakang papan nama raksasa itu dan sedang melihat kearahnya. Dia menelan ludahnya ketika sosok pria berbaju hitam itu menyeringai sinis padanya kemudian menaikkan tiga jarinya dan seperti mengisyaratkan ‘tiga bulan tersisa’ Dia menundukkan kepalanya, takut.
Gimana ini?No Angel! Dia meneteskan air matanya.
...

“Wow.”
Dia hampir tersedak dari minumnya ketika mendengar itu dan menoleh pada sumber suara itu sambil mengusap mulutnya.
Dia mendesah. “Apa? Aku kan sudah melakukan tugasku. Apalagi maumu tuan malaikat maut”
Malaikat maut itu menyeringai. “Sudah mulai berani, Albert?”
Albert mengangkat bahunya dan berbalik kembali dan duduk di kasurnya seraya menatap sosok tampan dihadapannya itu.
“Waktu yang tersisa tinggal dua bulan lagi.”
“Jangan ingatkan aku.” Albert berkata acuh.
“Kamu boleh meninggalkannya. Kamu menyelesaikan tugas lebih cepat dari dugaanku.” Sosok tampan itu berkata sebelum duduk di sampingnya dan menepuk bahunya. “Biarkan aku yang menyelesaikan tugas akhirnya. Dia sudah berubah menjadi lebih baik dan aku rasa surga pantas baginya.” Dia berhenti. “Terimakasih.” Dan dia berdiri berniat untuk meninggalkan tempat itu.
Albert menelan ludahnya. “Tunggu.”
Sosok tampan itu berbalik. “Apa?”
“Apa mungkin jika aku bisa menukar nyawaku dengannya?”
Sosok tampan itu tertawa. “Jatuh cinta, Huh?”
“Please?”
“No. Bye.” Dia mengeluarkan sayap dan melesat ke lar dari jendela.
Albert mendesah keras. Oh tidak! Aku tidak akan membiarkan kau dengan mudah akan mengambil Angel dariku! Fyl!
...
Hari ini sangat panas sehingga Angel memaksa Albert untuk berenang dengannya. Dia sedang memperhatikan Angel yang sedang tertawa dengan riang dan menciprat-cipratkan air kewajahnya. Dia sama sekali tidak protes. Tinggal beberapa minggu lagi waktu yang tersisa untuk Angel. Dia menghembuskan napasnya. Menahan air matanya keluar karena pikiran yang terselebat itu. Dia berusaha tersenyum paksa kemudian menghampirinya.
“Angel, udah yuk ah. Kita makan ah aku lapar.” Dia berjalan padanya dan menahan semua cipratan itu. “Angel, stop.”
Angel hanya tertawa, terkadang tawanya itu membuat Albert semakin merasa sedih dan terpuruk. Albert memeluknya untuk menghentikan dia dari serangan air itu dan menariknya keluar dari kolam. Angel terkekeh sambil meronta-ronta. Akhirnya Albert menurunkanya di tepian kolam. Dia menatapnya tajam.
“Albert, kenapa akhir-akhir ini kamu aneh sih?”
“H-huh?”
“Tuh kan.”
“Enggak ah.”
Angel cemberut. “Nyebelin.”
“Ayo.” Dia menghiraukan itu dan memegang tangan Angel. Dia selalu ekstra ketat untuk melindunginya sejak kejadian papan nama raksasa itu, tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi. Aku disini, Angel. Kamu pasti akan selamat
“I hate you.” Angel berkata ketus.
Albert menoleh padanya dan tersenyum. “Aku tau kamu bohong.” Ketika dia berbalik ada sebuah selang besi raksasa yang akan jatuh menimpa mereka. Matanya melotot dan dengan segera dia menarik tangan Angel dan melompat keras ke arah kolam renang lagi. Dia memeluk tubuh Angel dan menyelam di bawah dengan matanya yang tertutup. Setelah beberapa detik berlalu dia kemudian melihat ke atas dan melihat selang itu sudah mengambang diatasnya. Dia dengan cepat berenang ke atas sambil menarik Angel bersamanya. Mengangkat tubuh Angel yang sedang terengah-engah. Akhirnya sampai di darat dan di sebelah tepian kolam lagi.
“Kamu gak apa-apa?” Dia bertanya pada Angel yang sedang panik.
“Apa tadi barusan?”
Dia tidak menjawab dan hanya menunjuk pada selang besi raksasa yang sedang mengambang di kolam. Angel menelan ludahnya, terlihat sekali jika dia sangat takut. Dia kemudian maju ke depan dan mencium keningnya. “It’s okay. Ada aku disini.” Dia memelukanya. Tiba-tiba dia melihat sosok tampan itu lagi di sebelah tepian ujung kolam di sebrang. Sosok tampan itu menyeringai sinis padanya seperti biasa. Dia mengangkat jarinya dan seperti mengisyaratkan ‘tiga minggu’ padanya. Dia hanya menutup matanya. Berharap akan ada keajaiban. Help us!
...

Mereka sedang berpegangan satu sama lain. Duduk di atas ayunan dan menikmati desiran angin malam saat itu. Sampai saat sang wanita muda itu memecahkan keheningan disana. “Albert?”
Dia menoleh. “Hm?”
“Aku ngerasa ada sosok yang selalu mengikutiku.”
Albert menahan napasnya. “Mungkin kamu hanya berhalusinasi.”
Angel menggelengkan kepala. “Aku yakin. Ada pria berbaju hitam yang selalu datang dan pergi di pandanganku.”
Albert tak bergeming.
“Dan aku merasa kematian sedang mengejarku.” Lanjutnya.
Albert meremas tangan Angel. Matanya mulai berkaca-kaca, dia menarik napasnya dan kemudian dia tertawa. “Konyol ah. Terlalu banyak nonton drama nih. Jadi aja lebay!” Dia melepaskan genggamannya dan berlari mengelilingi ayunan itu.
“Hey! Kamu bilang aku konyol? Kemari kamu Albert. Biar aku beri kamu pelajaran.” Angel berlari mengejar Albert dan mereka saling mengejar satu sama lain sambil tertawa menghiasi wajah mereka. Sejenak Albert melupakan segalanya, dia merasa sangat bahagia.
...

Suara desingan dari luar jendela terdengar sangat nyaring di telinganya, dia sudah dapat menebak siapa yang akan muncul setelah itu. Dia berbalik dan melihat sosok tampan itu sedang menyeringai padanya.
Dia mendesah. “Apalagi?”
“Wow. Sopan sekali.” Dia menghampirinya dan duduk di meja belajarnya. Menumpangkan satu kakinya. “Apa kabar?”
“Enggak baik.”
Sosok tampan itu tertawa renyah lagi. “Albert yang dulu kemana nih?”
“Mati.”
Sosok tampan itu menyeringai. “Berbicara soal mati... hari ini gadis idaman kamu akan mengalaminya.” Dia menepuk tangannya. “So?”
Albert melotot sangat terkejut dengan berita yang baru dia dengar itu. “APA?!”
Sosok tampan itu mengangguk.
Albert menghampirinya dan menarik keras kerah sosok tampan itu. “KENAPA KAU TIDAK MENGATAKAN DARI AWAL?! DIMANA ANGEL SEKARANG? FUCK!” Dia berteriak dan menarik lebih keras kerahnya itu. Mengepalkan tangannya.
Sosok tampan itu hanya menyeringai. “Pukul aku. Seberapa pun kamu menyiksaku itu semua tidak akan berpengaruh.”
Albert mengerang dan melepaskan sosok tampan itu ke bawah dengan kasar. Dia terengah-engah. Matanya sangat marah. Wajahnya merah padam.
RING!!
Suara deringan teleponnya membuatnya terkaget dan dia berbalik menatapnya. Suara telepon itu berdering lagi lalu dia dengan cepat mengambilnya dan mengangkatnya.
“H-hello?” Suaranya terengah.
“Bisa bicara dengan Tuan Albert?”
“Y-yah saya sendiri?”
“Maaf, Tuan Albert teman anda yang bernama Angel sedang berada di ruang ICU. Kondisinya sedang kritis disebabkan kecelakaan beruntun di jalan tol.”
Teleponnya terjatuh ke bawah lantai. Dia merasa sangat lemas dan merasa sebagian dari hidupnya terampas. Dia menangis keras. “No. Angel! Tidak...” Kesedihan menyerbu ke dalam hatinya. Dia berbalik untuk mendapatkan sosok tampan itu hilang dari pandangannya.
“Jangan!”
Dia berbalik dan meraih teleponnya lagi. “Hello? Apa nama rumah sakitnya?”
...

Dengan langkah yang gontai dia berjalan ke ruangan ICU. Dilihatnya sudah ada banyak sekali orang yang ada disana. Dia menghampiri salah satu orang yang dia kenal. “Rere.”
Wanita muda itu berbalik. “Albert!” Dia menghampirinya dan memeluknya.
Itu membuat Albert terkejut. Wanita muda itu kemudian melepaskan pelukannya, albert dapat melihat jika wanita muda itu sudah menangis berat, wajahnya berantakan. Dia menelan ludahnya. “M-mana? A-angel?” Dia bertanya dengan tergagap.
Wanita muda itu menunjuk pada ruangan di belakangnya. Dia menatap pada ruangan itu dan berjalan ke arahnya. Ketika dia sampai di depan kaca besar transparan itu dia melihat wanita yang dia cintai sedang terbaring tak berdaya di atas kasur dengan beberapa bantuan alat-alat medis. Dia menarik napas dalam. Angel, please. Jangan tinggalin aku.
Matanya tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia membiarkan air mata itu mengalir deras saja dipipinya. Rere menepuk pelan punggungnya untuk menenangkannya. Dia menoleh padanya. “Re, bisa gak aku masuk ke dalem?”
Rere mengangguk.
Albert sekarang sudah berada di ruangan itu. Hanya mereka berdua dan suara detitan mesin medis itu yang terdengar. Dia melawan rasa ingin berteriaknya. Dia terisak-isak dan memegang tangan Angel.
Dia mendesah. “Angel... A-aku m-mohon kembalilah... don’t leave me,” Dia meremas tangannya. Masih dengan isakan itu. “Apa yang harus aku lakukan agar kamu terbangun, Ngel?”
Dia menutup matanya dan mendengar suara desingan kemudian dia membuka matanya untuk melihat sosok tampan itu lagi tapi kali ini dia melihat sosok tampan itu sedang memasang wajah sedih padanya. “Apa?” Dia bertanya padanya.
“Apa cintamu sangat dalam padanya?”
Itu membuatnya heran tapi dia tetap menjawabnya. “Tentu saja.”
“Apa kamu rela melakukan apapun untuk dia?”
Albert mengangguk dengan pasti kali ini lalu melihat ekspresi wajah sosok tampan itu dengan seketika berubah. Sosok tampan itu tersenyum.” Bagus. Jika kamu rela menukar nyawamu dengannya maka buka saja alat pembantu jantung itu dan cium dia. Good luck.” Dengan sekejap sosok tampan itu menghilang dengan sayapnya.
Dia menarik napasnya dan menatap dalam pada Angel. Aku rela melakukan apapun untukmu, Angel.
“I love you...”
Dia lalu dengan perlahan membuka penutup mulut alat bantu pernapasan itu dan menyondongkan badannya ke depan. Menarik napasnya ketika dia dapat melihat wajah Angel versi close up-nya kamu sangat cantik. Dia menempelkan bibirnya di bibir Angel lalu menutup matanya. Terdengar suara detitan keras dari mesin itu.
TIT TIT TITTTTT...
...
“Aku turut berduka cita yah.”
Dia mengangguk lalu menatap sedih batu nisan itu.
Orang-orang sudah meninggalkan tempat itu dan sekarang hanya ada dia dan batu nisan itu. Matanya sudah bengkak karena terlalu banya menangis, hidungnya juga merah. Terlebih lagi suasana hatinya sangat kacau.
“A-albert....” Dia menangis lagi dan memegang batu nisan itu. kenapa bisa begini?!
Dia memeluk batu nisan itu dan menciumnya. Beberapa saat kemudian dia dapat merasakan ada sosok tampan yang menghampirinya. Dia melotot, kaget. Dia menarik napasnya. Pria itu?! kenapa dia bisa disini. Pikirnya.
Pria itu tersenyum padanya. “Hey.”
Angel masih terdiam.
“Albert memang pria yang hebat.” Dia berhenti dan menatap pada batu nisan itu. “Dia rela menukarkan nyawanya untukmu. Dia begitu sangat mencintaimu.”
Angel menarik dan menghembuskan napasnya, dia menangis lagi.
Sosok tampan itu menceritakan pada Angel semua yang telah terjadi selama ini padanya. Angel mendengarkan semuanya dengan heran dan sedih. Merasakan perasaan yang sangat mendalam.
Sosok tampan itu berlutut dan memegang bat nisan Albert. “Jangan sia-siakan hidupmu. Albert telah berjuang untuk itu. Move on.” Setelah berkata itu sosok tampan itu menghilang dengan sayapnya.
Dia memperhatikannya dengan sedikit kagum dan takut. Dia menatap kembali batu nisan itu dan menciumnya lagi. “Thank you. I love you.... so much.” Dia menutup mata dan menangis lagi.

-THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar